Oleh: sujono | 20 29UTCp31UTC01bUTCSat, 10 Jan 2009 13:08:29 +0000 2008

Pendidikan Anak

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} pre {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Courier New”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:373190165; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1445148628 375449324 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Pendidikan Anak Dalam Islam

A. Islam Memperhatikan Pendidikan Terhadap anak

Sebagai agama yang ajarannya mencakup semua aspek kehidupan. Islam telah mengatur pula masalah pendidikan, khususnya tentang pendidikan bagi anak. Pendidikan anak adalah perkara yang sangat penting di dalam Islam. Di dalam Al-Quran kita dapati bagaimana Allah menceritakan petuah-petuah Luqman yang merupakan bentuk pendidikan bagi anak-anaknya. Begitu pula dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kita temui banyak juga bentuk-bentuk pendidikan terhadap anak, baik dari perintah maupun perbuatan beliau mendidik anak secara langsung.

Tentang perkara ini, Allah azza wa jalla berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)

Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :


Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban”

Perlu kita ingat bahwa anak adalah amanat yang harus di jaga dan akan diminta pertanggungjawabannya. Anak dilahirkan dalam keadaan putih bersih, tidak ada noda dosa sama sekali. Orang tualah yang akan membentuk anak menjadi apapun. Seperti sabda Nabi SAW. :

”Tiada seorang ( anak ) yang dilahirkan melainkan menurut fitrahnya. Maka akibat kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani dan Majusi sebagaimana halnya binatang yang dilahirkan dengan sempurna, apakan kamu lihat binatang itu tiada berhidung dan bertelinga ? Kemudian Abu Hurairah berkata : ” apabila kamu mau bacalah lazimillah ” fitrah Alloh yang telah tentukan pada manusia di atas fitrahnya. Taiada penggantian terhadap ciptaan Alloh. Itulah agama yang lurus.” ( H.R. Muslim )


“Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shaleh yang mendo’akannya.” ( HR. Muslim, dari Abu Hurairah )

Orangtua hendaknya mengetahui betapa besarnya tanggung-jawab mereka di hadapan Allah ‘azza wa jalla terhadap pendidikan putra-putri islam.

Untuk itu -tidak bisa tidak- orang tua harus tahu apa saja yang harus diajarkan kepada seorang anak serta bagaimana metode yang telah dituntunkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

B. Materi Pendidikan Anak

Beberapa hal yang penting dalam mendidik anak antara lain adalah :

1. Menanamkan Tauhid dan Aqidah yang Benar kepada Anak

Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa tauhid merupakan landasan Islam. Apabila seseorang benar tauhidnya, maka dia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, tanpa tauhid dia pasti terjatuh ke dalam kesyirikan dan akan menemui kecelakaan di dunia serta kekekalan di dalam adzab neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:


“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni yang lebih ringan daripada itu bagi orang-orang yang Allah kehendaki” (An- Nisa: 48)

Oleh karena itu, di dalam Al-Quran pula Allah kisahkan nasehat Luqman kepada anaknya. Salah satunya berbunyi,


“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”.(Luqman: 13)

Diriwayatkan dari Ibnu ”abbas r.a. dia berkata : Rosullullah SAW. Bersabda kepada Mu’adz bin Jabal ketika hendak diutus ke Yaman :

” Sesungguhnya engkau akan tiba pada suatu kaum dari ahli kitab. Maka jika engkau datang pada mereka, serukanlah kepada persaksian bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah ” ( HR. Bukhori ).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberikan contoh penanaman aqidah yang kokoh ini ketika beliau mengajari anak paman beliau, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan. Ibnu Abbas bercerita :

Pada suatu hari aku pernah berboncengan di belakang Nabi (di atas kendaraan), beliau berkata kepadaku: “Wahai anak, aku akan mengajari engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia) berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan bermanfaat bagimu). Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia)berkumpul untuk mencelakakan kamu, tidak akan mampu mencelakakanmu sedikitpun, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan sampai dan mencelakakanmu). Pena telah diangkat, dan telah kering lembaran-lembaran”.

Perkara-perkara yang diajarkan oleh Rasulllah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas di atas adalah perkara tauhid.

Termasuk aqidah yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini adalah tentang keberadaan Allah. Ini sangat penting, karena banyak kaum muslimin yang salah dalam perkara ini. Sebagian mengatakan bahwa Allah ada dimana-mana. Sebagian lagi mengatakan bahwa Allah ada di hati kita, dan beragam pendapat lainnya. Padahal dalil-dalil menunjukkan bahwa Allah itu berada di atas arsy, yaitu di atas langit. Dalilnya antara lain,

“Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy” (Thaha: 5)

Makna istiwa adalah tinggi dan meninggi .Hadits dari Mua’wiyah bin Hakam As-Sulami r.a. menceritakan :


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada seorang budak wanita, “Dimana Allah?”. Budak tersebut menjawab, “Allah di langit”. Beliau bertanya pula, “Siapa aku?” budak itu menjawab, “Engkau Rasulullah”. Rasulllah kemudian bersabda, “Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia adalah wanita mu’minah”.

(HR. Muslim dan Abu Daud).


2. Mengajari Anak untuk Melaksanakan Ibadah

Hendaknya sejak kecil putra-putri kita diajarkan bagaimana beribadah dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Mulai dari tata cara bersuci, shalat, puasa serta beragam ibadah lainnya. Rasulullah SAW. bersabda,

“Ajarilah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun (bila tidak mau shalat-pen) dan pisahlah tempat tidur mereka ” (HR. Abu Dawud )

           
Di dalam hadits ini terkandung bimbingan yang sangat berarti dalam mendidik anak, yaitu bahwa cara mendidik itu berbeda-beda dari zaman ke zaman. Dan setiap anak diperintah sesuai dengan kemampuannya.
          Demikian juga dengan cara memberikan pelajaran, berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya. Ada di antara mereka yang akan baru sadar dengan pukulan dan ada pula yang sadar hanya dengan kata-kata yang baik. Dan setiap tempat memiliki kalimat (cara) tersendiri.
        Bila mereka telah bisa menjaga ketertiban dalam shalat, maka ajak pula mereka untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid. Dengan melatih mereka dari dini, insya Allah ketika dewasa, mereka sudah terbiasa dengan ibadah-ibadah tersebut.


3. Mengajarkan Al-Quran, Doa dan Dzikir yang Ringan kepada Anak-anak

Dimulai dengan surat Al-Fathihah dan surat-surat yang pendek serta doa tahiyat untuk shalat. Dan menyediakan guru khusus bagi mereka yang mengajari tajwid dan Al-Quran. Begitu pula dengan doa dan dzikir sehari-hari. Hendaknya mereka mulai menghapalkannya, seperti doa ketika makan, keluar masuk WC dan lain-lain.

Rasullulah SAW. Bersabda :

”Kewajiban orang tua kepada anaknya adalah memnberikan nama yang bagus, mengajarkan Al-Qur’an ketika sudah berakal, serta menikahkan bila sudah dewasa”

( H.R. Bukhori )


4. Mendidik Anak dengan Berbagai Adab dan Akhlaq yang Mulia

Sebagai orang tua wajib mendidik anak- anaknya dengan berbagai adab Islami, budi pekerti yang baik dan aklaqul karimah. .

Nabi SAW. Bersabda :

”Kewajiban orang tua kepada anaknya adalah memberikan nama yang baik, mendidik ( perilaku yang baik ), mengajarkan menulis, berenang, memanah, memberi makan dengan makanan yang baik serta menikahkan apabila telah dewasa”. ( H.R. Hakim ).

”Didiklah anak-anakmu dan perbaikilah budi perkertinya”. ( H.R. Ibnu Majah )

” Ajarkanlah kepada anak-anakmu kebaikan dan budi pekerti yang baik ”.

( H.R. Abdurrazaq dari Said bin Manshur )

” Salah satu dari hak anak atas orang tuanya ialah membaguskan budi pekerti serta namanya ”. ( H.R. Thabrani ).

Abu Dzar r.a. berkata kepada saudaranya tatkala datang berita diutusnya Rasullullah SAW. : ” Pergilah engkau ke lembah itu dan dengar apa ucapannya. Kemudian dai kembali lalu menyampaikan :

”Aku melihat dia memerintahkan kepada budi pekerti yang baik ”.

( H.R. Bukhari dan Muslim )

Diantara adab dan akhlaq yang mulia adalah :

a. Berbakti kepada orang tua , menghormati kerabat keluarga dan orang lain.

Dalam hal ini Nabi SAW. Bersabda :

” Berbaktilah kepada ibumu, ayahmu, saudara perempuanmu dan saudara lelakimu, kemudian yang terdekat lalu yang terdekat ”. ( H.R. Nasa’i, Ahmad dan Hakim )

b.Berkata yang baik.

Nabi SAW. Bersabda :

” Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata yang baik atau diam ”. ( H.R. Bukhari dan Muslim )

5. Melarang Anak dari Perbuatan Tercela Termasuk yang Diharamkan Allah.

Hendaknya anak sedini mungkin diperingatkan dari beragam perbuatan yang tidak baik atau bahkan diharamkan, seperti berkata jorok, mencaci maki, mengolok-olok, mencuri, mengambil hak orang lain, zhalim, durhaka kepada orang tua dan segenap perbuatan haram lainnya.


6. Menanamkan Cinta Jihad serta Keberanian

Bacakanlah kepada mereka kisah-kisah keberanian Nabi dan para sahabatnya dalam peperangan untuk menegakkan Islam agar mereka mengetahui bahwa beliau adalah sosok yang pemberani, dan sahabat-sahabat beliau seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali dan Muawiyah telah membebaskan negeri-negeri.

Tanamkan pula kepada mereka kebencian kepada orang-orang kafir. Tanamkan bahwa kaum muslimin akan akan ditolong dengan seizin Allah.

Didiklah mereka agar berani beramar ma’ruf nahi munkar, dan hendaknya mereka tidaklah takut melainkan hanya kepada Allah. Dan tidak boleh menakut-nakuti mereka dengan cerita-cerita bohong, horor serta menakuti mereka dengan gelap.


7. Membiasakan Anak dengan Pakaian yang Syar’i

Hendaknya anak-anak dibiasakan menggunakan pakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Anak laki-laki menggunakan pakaian laki-laki dan anak perempuan menggunakan pakaian perempuan. Jauhkan anak-anak dari model-model pakaian barat yang tidak syar’i, bahkan ketat dan menunjukkan aurat. Tentang hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang meniru sebuah kaum, maka dia termasuk mereka.”

(Shahih, HR. Abu Daud)

Untuk anak-anak perempuan, biasakanlah agar mereka mengenakan kerudung penutup kepala sehingga ketika dewasa mereka akan mudah untuk mengenakan jilbab yang syar’i.

Demikianlah beberapa hal yang penting dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mendidik anak. Hendaknya para orang tua dan pendidik bisa merealisasikannya baik dalam pendidikan formal ( sekolah ) ataupun dalam lingkungan keluarga terhadap anak-anak.

Dan hendaknya pula mereka ingat, dalam menyampaikan pendidikan harus mampu menyentuh sisi jiwa dan akal. Hal itu tak akan terwujud hanya dengan melalui tutur kata nasehat yang terkesan membosankan dan mendikte tanpa adanya panutan (suri tauladan ) serta dialog.

C. Aspek-Aspek Dalam Menyampaikan Pendidikan Pada Anak

Para orang tua perlu memberikan banyak perhatian khususnya pendidikan pada anak-anak Aspek-aspek yang wajib diperhatikan oleh kedua orang tua dalam hal ini antara lain sebagai berikut:

1. Memberikan contoh suri tauladan

Yaitu dengan menetapi manhaj Islam dalam perilaku mereka secara umum dan dalam pergaulannya dengan anak secara khusus. Jangan mengira karena anak masih kecil dan tidak mengerti apa yang tejadi di sekitarnya, sehingga kedua orangtua melakukan tindakan-tindakan yang salah di hadapannya. Ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada pribadi anak. “Karena kemampuan anak untuk menangkap, dengan sadar atau tidak, adalah besar sekali. Terkadang melebihi apa yang kita duga. Sementara kita melihatnya sebagai makhluk kecil yang tidak tahu dan tidak mengerti. Memang, sekalipun ia tidak mengetahui apa yang dilihatnya, itu semua berpengaruh baginya. Sebab, di sana ada dua alat yang sangat peka sekali dalam diri anak yaitu alat penangkap dan alat peniru, meski kesadarannya mungkin terlambat sedikit atau banyak.
Akan tetapi hal ini tidak dapat merubah sesuatu sedikitpun. Anak akan menangkap secara tidak sadar, atau tanpa kesadaran puma, dan akan meniru secara tidak sadar, atau tanpa kesadaran purna, segala yang dilihat atau didengar di sekitamya.”
(Ibid.)

2. Bersikap adil

Dari Nu'man bin Basyir, dia berkata, "Ayahku pernah menyedekahkan sebagian hartanya kepadaku. Lalu ibuku, 'Amrah binti Rawahah berkata, 'Aku tidak rela sehingga engkau meminta disaksikan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.' Maka ayahku pun berangkat menghadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menjadi saksi baginya atas sedekah yang diberikan kepadaku. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya, 'Apakah engkau melakukan hal ini kepada anakmu semua?' Dia menjawab, 'Tidak.' Beliau bersabda:
 
"Bertakwalah kepada Allah dan berbuatlah adil di antara anak-anakmu.' Kemudian ayahku kembali lagi dan mengambil sedekah tersebut" [Al-Bukhari dan Muslim]
 
Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, "Di dalam hadits ini terkandung pengertian keharusan untuk menyamaratakan anak-anak dalam hal pemberian. Di mana masing-masing diberi sama, tidak boleh membedakan satu dengan yang lainnya, serta menyamakan antara anak laki-laki dan perempuan"
 
3. Didasari dengan kasih sayang
Ini perlu sekali, agar anak belajar mencintai orang lain. Jika anak tidak merasakan cintakasih ini,maka akan tumbuh mencintai dirinya sendiri saja dan membenci orang disekitamya. Orang tua dan pendidik harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang menghalanginya untuk memberikan kasih sayang dan perlindungan. Dia akan merusak seluruh eksistensi anak, jika tidak memberikan haknya dalam perasaan-perasaan ini, yang dikaruniakan Allah dengan rahmat dan hikmah-Nya, (Muhammad Quthub,Manhaiut Tarbiyah Al Islamiyah, juz 2.)

D. Catatan Tambahan
Syaikh Mushthafa di dalam kitabnya, Fiqh Tarbiyatul Abnaa', hal. 135, mengatakan, "Terkadang seorang anak berbuat salah, karenanya ia memerlukan bimbingan. Lalu sang ibu datang untuk membimbingnya. Tetapi, sang suami yang berakal justeru menghardik sang ibu di hadapan anaknya sehingga berdampak negatif bagi anaknya, yang mengakibatkan kewibawaan sang ibu jatuh. Oleh karena itu, berhati-hatilah Anda agar tidak menghardik isteri di hadapan anaknya, tetapi hendaklah Anda berlemah lembut dalam bertutur kata dan berikan penghormatan terhadap kewibawaan dan harga dirinya. Katakan kepadanya, misalnya, 'Menurutku anak ini belum pantas untuk dipukul, semoga Allah memberikan ampunan pada kali ini, maka maafkanlah untuk kali ini. Dan jika dia mengulanginya lagi, maka berikanlah hukuman. Dan aku akan memberinya hukuman yang sama denganmu.'
Jika seorang ibu dipukul dan dihardik olehmu di hadapan anak-anaknya, maka hal itu akan tampak jelas di mata anak-anaknya dan berpengaruh terhadap psikologinya. Di antara mereka bahkan akan ada yang marah dan membencimu serta sangat sedih atas apa yang dialami ibunya. Dan di antara mereka juga ada yang memendam hal tersebut di dalam dirinya, sehingga apabila ia melakukan kesalahan atau ditegur oleh ibunya, ia akan mengatakan kepadanya, 'Aku akan adukan kepada ayah, nanti ayah akan memukulmu seperti yang pernah dilakukannya dulu.' Beranjak dari hal tersebut, maka rumah sangat berpengaruh sekali terhadap pendidikan anak."

E. Kesimpulan

Begitu besarnya perhatian islam dalam memperhatikan pendidikan pada anak. Melalui pendidikan pada anak Islam berharap bisa mempersiapkan kader generasi yany baik, potensiandan berakhlaqul karimah. Semoga kita sebagai orang tua mampu mendidik anak-anak sesuai tuntunan dan harapan Al-Qur’an dan Rosulullah SAW


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: